Balletcore Kembali Viral, Kini Lebih Gelap dan Autentik

0
Sepatu balet dalam posisi kelima

Sepatu balet dalam posisi kelima

INDONESIATELEGRAPH.COM – Tren balletcore yang sempat membanjiri TikTok pada 2022 kembali menonjol dalam perbincangan mode pada awal Agustus 2026. Namun, versi terbarunya tidak lagi hanya mengandalkan tulle merah muda pucat dan citra manis seperti kostum peri. Who What Wear menggambarkan kebangkitan ini sebagai gaya yang lebih dekat dengan suasana gelap dan intens dalam “Black Swan” daripada kelembutan “Sugar Plum Fairy”. Perubahan itu membuat balletcore terasa lebih dewasa, keras, dan nyata dibandingkan gelombang pertamanya. Kembalinya tren tersebut juga menegaskan bahwa estetika balet masih memiliki daya tarik kuat di tengah perputaran mode digital yang sangat cepat.

Pada kemunculannya sekitar 2022, balletcore dikenal lewat tampilan yang sangat terkurasi dengan tulle tipis, warna pastel, pita, dan sepatu balet. Who What Wear menyebut bentuk awal itu sebagai perpaduan antara estetika “coquette” dan “clean girl”, dua gaya yang saat itu ramai di media sosial. Teen Vogue juga mencatat bahwa daya tarik balletcore mudah dipahami karena elemen utamanya, seperti ballet flats, pita, tulle, hiasan rambut, dan kardigan, relatif mudah ditiru. Sejarawan mode Rachel Weingarten mengatakan kepada Teen Vogue bahwa pengaruh balet sesungguhnya tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia mode. Karena itu, gelombang 2026 lebih tepat dibaca sebagai penafsiran ulang daripada kemunculan sebuah gagasan yang sepenuhnya baru.

Sepatu balet dalam posisi kelima
Sepatu balet dalam posisi kelima. Pembuat: Lambtron. Sumber: Wikimedia Commons. Lisensi: CC BY-SA 4.0.

Perbedaan paling mencolok pada versi terbaru terletak pada sosok yang mendorong tren tersebut ke depan. Who What Wear menilai kebangkitan kali ini lebih banyak dipimpin oleh penari sungguhan, bukan semata-mata pengguna media sosial yang meminjam citra studio tari. Kehadiran mereka memberi kesan bahwa pakaian tersebut lahir dari latihan, keringat, dan disiplin, bukan hanya dari penataan visual untuk sebuah unggahan. Nuansa otentik itu menggeser fokus dari fantasi balerina yang serba sempurna menuju keseharian orang yang benar-benar bekerja dengan tubuhnya. Hasilnya adalah tampilan yang tetap romantis tetapi memiliki lapisan ketangguhan dan pengalaman nyata.

Salah satu figur yang disorot dalam laporan Who What Wear adalah Adéla Jergova, balerina terlatih klasik yang kemudian menjadi penyanyi pop. Namanya semakin diperhatikan ketika tampil sebagai pembuka tur Demi Lovato dan Tate McRae. Dalam penampilannya, latar belakang tari klasik bukan sekadar aksesori visual, melainkan bagian dari identitas yang dibawa ke panggung musik. Perpaduan antara teknik balet dan budaya pop membantu menjelaskan mengapa tren ini terasa berbeda dari siklus sebelumnya. Balletcore 2026 bergerak melalui orang-orang yang dapat menunjukkan hubungan langsung antara pakaian, gerak, dan profesi mereka.

Penari Madeline Woo juga menjadi contoh penting dalam perubahan arah tersebut. Melalui unggahan Instagram, ia terlihat berada di studio dengan rompi hitam ramping, celana capri, sepatu pointe merah muda, dan potongan rambut pixie merah menyala. Perpaduan warna gelap, siluet praktis, dan detail tajam menjauhkan balletcore dari gambaran seragam berwarna merah muda yang terlalu manis. Gaya itu tetap mudah dikenali sebagai inspirasi balet, tetapi menampilkan sisi latihan yang lebih tegas dan kontemporer. Sosok seperti Woo memperlihatkan bahwa estetika penari dapat diterjemahkan ke mode tanpa menghapus karakter kuat pemakainya.

Bintang pop Madonna ikut memperbesar gaung estetika ini menjelang peluncuran albumnya. Who What Wear mencatat bahwa ia mengubah sampul Vogue Italia menjadi serba merah muda dan mempertahankan tema tersebut sepanjang rangkaian promosi album. Pilihan itu menempatkan warna khas balletcore dalam konteks persona panggung yang telah lama dikenal berani dan provokatif. Di tangannya, merah muda bukan hanya penanda kelembutan, tetapi juga bagian dari pertunjukan identitas yang penuh kendali. Kehadiran Madonna memperluas tren dari ruang latihan dan media sosial ke panggung budaya populer yang lebih besar.

Detail penari balet berdiri en pointe
Detail penari balet berdiri en pointe. Pembuat: Rufino Uribe. Sumber: Wikimedia Commons. Lisensi: CC BY-SA 2.0.

Unsur gelap dalam balletcore terbaru juga terlihat pada cara busana panggung dan pakaian sehari-hari dipadukan. Who What Wear menyoroti penggunaan rajut agak transparan, atasan lepas bahu, serta tas mewah sebagai lapisan di atas dasar yang terinspirasi dari studio tari. Susunan tersebut menghasilkan tampilan yang tidak menyerupai kostum balet secara harfiah, meskipun rujukannya tetap terbaca. Tekstur yang lebih berat dan warna yang lebih gelap memberi keseimbangan terhadap kain tipis serta siluet feminin. Pergeseran ini membuat balletcore dapat diterapkan dengan spektrum karakter yang lebih luas daripada sekadar romantisisme pastel.

Perkembangan sepatu juga menunjukkan bahwa pengaruh balletcore tidak berhenti pada ballet flats tradisional. Vogue España melaporkan bahwa sepatu balerina berhak menjadi salah satu penafsiran penting pada 2026, dengan rumah mode seperti Miu Miu dan Christian Louboutin ikut menampilkannya. Vogue Italia mencatat variasi balerina berhak baji yang memadukan semangat balletcore dengan feminitas era 1940-an. Publikasi itu juga menilai tren balletcore belum kehilangan tenaga, terlihat dari kampanye NikeSkims yang menampilkan Lisa dari Blackpink dan merayakan dunia tari klasik. Ragam tersebut memperlihatkan bagaimana satu bentuk dasar dapat bergerak dari sepatu datar menuju hak tinggi, hak baji, dan bahkan siluet yang bersinggungan dengan sneaker.

Meski demikian, hubungan antara tren mode dan kehidupan penari tidak selalu berjalan tanpa kritik. Vogue pernah meminta pandangan para balerina dan menemukan dua sikap, yakni menganggap balletcore sebagai penyederhanaan perjuangan penari atau melihatnya sebagai cara ringan untuk mengenalkan seni tersebut kepada lebih banyak orang. Penari dan koreografer Eva Alt mengatakan bahwa interpretasi merek mode terhadap gaya penari sering menyerupai pakaian anak kecil saat mengikuti kelas balet. Penari lain menyoroti jarak antara tampilan cantik yang beredar dan kerja keras yang melibatkan darah, keringat, serta air mata. Kritik itu menjadi pengingat bahwa otentisitas yang kini dirayakan merupakan bagian penting, bukan sekadar perangkat pemasaran baru.

Jejak balet dalam mode sendiri telah berlangsung jauh sebelum istilah balletcore populer di TikTok. British Vogue menulis bahwa para perancang seperti Christian Lacroix, Coco Chanel, Jean Paul Gaultier, dan Erdem pernah menciptakan kostum bagi perusahaan balet yang tampil di gedung opera ternama. Publikasi tersebut juga menyebut kebangkitan modern balletomania kembali digerakkan oleh Miu Miu sebelum dikenal luas dengan nama balletcore. Hubungan panjang itu menjelaskan mengapa tren ini mampu muncul lagi dengan bentuk yang berbeda pada tiap periode. Pada 2026, warisannya bertemu dengan penari digital, bintang pop, dan rancangan alas kaki baru yang membuatnya kembali relevan.

Kebangkitan balletcore kali ini pada akhirnya tidak semata-mata ditandai oleh kembalinya pita, tulle, atau sepatu datar. Perhatian justru tertuju pada perpaduan romantisisme dan ketegasan, serta pada keterlibatan penari yang membawa pengalaman autentik ke dalam tren. Mode yang muncul menawarkan warna merah muda, hitam, rajut transparan, celana capri, sepatu pointe, dan berbagai jenis balerina dalam satu percakapan visual. Pada saat yang sama, suara kritis para profesional menjaga agar dunia tari tidak direduksi menjadi dekorasi yang mudah dikonsumsi. Gelombang 2026 menunjukkan bahwa daya tahan balletcore berasal dari kemampuannya berubah sambil tetap mempertahankan hubungan dengan disiplin balet.

Sumber: Who What Wear, Teen Vogue, Vogue, Vogue España, Vogue Italia, British Vogue, Wikimedia Commons.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *