Pertebal Modal, Rilis 6 Miliar Saham Baru BSI Semakin Leluasa Garap Pasar Syariah

PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI mempertebal modal dengan menerbitkan saham baru. Langkah ini dilakukan agar lebih leluasa menggarap pasar syariah.

Upaya itu dilakukan dengan mempertebal modal melalui rencana penerbitan 6 miliar saham baru melalui skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau right issue.

“Belum ketahuan jumlah dana yang akan diraih BSI lewat right issue. Kemungkinan akan dipakai untuk mengakuisisi BTN Syariah,” jelas Kepala Riset Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma, kepada Rakyat Merdeka, Senin (22/8).

Hal itu, kata Suria, mengacu pada pernyataan Menteri BUMN Erick Thohir pada awal tahun ini, soal rencana BSI mengakuisisi BTN Syariah. Ketika itu, Erick bilang UUS BTN akan memperkuat posisi sekaligus memperbesar kapasitas BSI. Konsolidasi ini merupakan visi Pemerintah untuk terus mendorong penguatan ekonomi dan perbankan syariah melalui BSI. Dengan demikian, BSI dapat memperbesar dan memperkuat posisinya dalam hal kapitalisasi pasar.

Konsolidasi itu, selain untuk memperkuat ekosistem layanan perbankan syariah di Tanah Air, juga sebagai amanat Undang-Undang (UU) Nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Serta Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 59 Tahun 2020 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemisahan UUS.

Saat ini, BSI tengah menunggu untuk mengubah status dari anak usaha BUMN menjadi bank BUMN. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BSI pada Mei 2022, seluruh pemegang saham telah sepakat Pemerintah Indonesia memiliki saham Seri A Dwiwarna di perseroan.

Sebelum Saham Seri A Dwiwarna masuk, pemegang saham BSI adalah Bank Mandiri (50,83 persen), BNI (24,85 persen), BRI (17,25 persen), dan publik (7,08 persen).

Adapun dalam keterbukaan informasi yang diterbitkan perseroan, BSI berencana menggunakan seluruh dana yang diterimanya dari PMHMETD (Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu), setelah dikurangi dengan beragan biaya dan pengeluaran terkait emisi saham baru, untuk penyaluran pembiayaan dalam mendukung pertumbuhan bisnis perseroan.

“Intinya, langkah strategis ini akan memperluas bisnis BSI dan mendorong produk pembiayaan menjadi lebih murah. Sehingga memberi manfaat positif bagi konsumen,” sebut Suria.

 

Peneliti ekonomi syariah dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Fauziah Rizki Yuniarti berpendapat, dengan menambah modal, maka BSI akan memiliki bisnis yang lebih luas. Emiten bank dengan kode BRIS ini akan lebih mudah mendapatkan dana murah.

“Dampaknya ke konsumen, karena dana murahnya banyak, BSI bisa bikin produk pembiayaan lebih murah. Konsumen diuntungkan kalau jadi BUKU IV,” kata Fauziah di Jakarta, Senin (22/8).

Dia menilai, potensi bisnis BSI masih sangat luas. Salah satunya, adalah karena masih minimnya masyarakat Indonesia yang belum memiliki rekening bank. Ceruk pasar tersebut sangat besar dan belum dioptimalkan oleh bank-bank yang ada saat ini.

Berdasarkan kinerja satu tahun pasca merger, BSI telah menunjukkan performa positif. Baik dari sisi aset maupun kemampuan mencetak keuntungan.

Per Desember 2021, laba bersih bank naik 38,42 persen secara tahunan (year on year/ yoy) menjadi Rp 3,03 triliun. Pada periode yang sama, aset BSI juga naik 10,73 persen yoy menjadi Rp265,29 triliun.

Hal tersebut disokong oleh penyaluran pembiayaan yang mencapai Rp 171,29 triliun, atau naik sekitar 9,32 persen yoy.

Sementara hingga triwulan I-2022, BSI menorehkan capaian positif dengan membukukan laba bersih mencapai Rp 987,68 miliar, atau naik 33,18 persen secara yoy.

BSI mampu mencatatkan penyaluran pembiayaan sebesar Rp 177,51 triliun atau tumbuh 11,59 persen yoy. Capaian tersebut didukung pula pembiayaan sehat dengan rasio Non Performing Financing (NPF) net sebesar 0,90 persen. Dari sisi aset, BSI saat ini berada di peringkat tujuh secara nasional. Sekaligus menjadi bank syariah terbesar di Indonesia.

BSI memiliki visi untuk menjadi top 10 Global Syariah Bank, dengan aspirasi aset Rp 500 triliun pada 2025 dengan Return on Equity (ROE) lebih dari 18 persen.

Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menjelaskan, saham baru yang akan diterbitkan sebanyak-banyaknya 6 miliar dengan nominal Rp 500 per saham. Saham baru ini akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

 

“Saham baru tersebut akan memiliki hak yang sama dan sederajat dalam segala hal. Termasuk hak atas deviden dengan saham Seri B Perseroan lainnya yang telah ditempatkan dan disetor,” jelas Ade di Jakarta, Kamis (18/8).

Cahyo mengatakan, aksi korporasi itu dilakukan perseroan untuk mendukung ekspansi pertumbuhan bisnis, baik secara organik maupun anorganik. Di mana BSI memproyeksikan pertumbuhan pembiayaan dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) di atas 15 persen sampai tahun 2025.

Untuk mendukung rencana tersebut, BSI membutuhkan tambahan permodalan (ekuitas), agar Capital Adequacy Ratio (CAR) perseroan dapat mencapai di atas 20 persen pada akhir 2025. Saat ini CAR BSI berada di kisaran 17 persen.

“Hal tersebut juga sesuai dengan average CAR Top 10 National Bank dan menjaga level of comfort market,” terangnya.

Rencananya, bank syariah terbesar itu akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 23 September 2022, untuk meminta persetujuan rencana right issue tersebut. ■

]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *