Mayoritas Turis Cari Destinasi Wisata Lewat Internet

Perkembangan teknologi dan informasi berpengaruh terhadap perilaku masyarakat. Terutama dalam mencari destinasi wisata.

Meski masih banyak yang mencari objek wisata melalui cara konvensional tapi sekarang makin banyak yang mencari lewat internet.

Anggota Relawan Edukasi Anti Hoax Indonesia Wildan mengungkapkan, pemasaran pariwisata secara digital telah menjadi tuntutan.

Dibutuhkan kecakapan digital untuk mengoptimalkan dunia digital dalam pengembangan pariwisata di Indonesia.

“Sekarang 70 persen wisatawan mencari informasi tentang destinasi wisata lewat mesin pencari di internet,” ujarnya dalam webinar bertajuk “Strategi Pengembangan & Pemasaran Destinasi Pariwisata di Era Digital”, di Makassar, Sulawesi Selatan, dikutip Jumat (23/9).

Para turis juga cenderung memiliki perilaku praktis. Selain mencari objek wisata dengan internet tapi banyak juga yang pesan, dan bayar lewat online.

“Dibutuhkan strategi jitu dalam hal pemasaran pariwisata berkaca pada perubahan di atas,” katanya.

Strateginya adalah bisa dengan mengoptimalkan media massa, membuat website khusus memperluas jaringan, maksimalkan pemasaran di medsos dan memanfaatkan platform digital.

Wildan menambahkan, ekosistem pariwisata digital dibutuhkan untuk mengembangkan tourism 4.0. Platform digital bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mendapat peluang dari dunia digital.

Khususnya dari sektor pariwisata. Oleh karena itu, imbuh dia, kecakapan digital sangat dibutuhkan agar peluang tersebut bisa dimaksimalkan sebaik mungkin.

Ketua Asosiasi Sales Nasional Indonesia Makassar Hasrul As menguraikan sejumlah tips pemasaran digital di sektor pariwisata tanpa harus melanggar etika di media sosial atau dunia digital.

Menurut dia, konten yang dibuat sebagai materi promosi atau pemasaran sebaiknya tidak melanggar kesusilaan. Hindari pencemaran nama baik atau penghinaan dalam memasarkan destinasi pariwisata. Selain itu, pemasaran juga tidak boleh memasukkan unsur berita bohon (hoaks) atau penyebaran kebencian.

“Konten yang bermanfaat bisa menjadi inspirasi bagi calon wisatawan untuk mengunjungi destinasi tertentu. Oleh karena itu, pemasaran pariwisata secara digital harus dilakukan dengan penuh kebijaksanaan serta sesuai etika yang berlaku,” ujar Hasrul.

Rektor Institute Nitro Makassar M Hatta Alwi Hamu menambahkan, pengembangan pariwisata butuh peran pemuda.

Menurut dia, mengutip sebuah hasil survei, generasi milenial lebih memilih membelanjakan uangnya untuk mendapat pengalaman ketimbang membeli barang.

Hal ini bisa menjadi peluang baru untuk membuat destinasi wisata yang sesuai dengan keinginan pasar, khususnya dari kalangan generasi milenial. Generasi milenial bahkan generasi Z dapat melakukannya dengan membuat konten-konten menarik di media sosial.

“Konten yang dapat mempromosikan destinasi pariwisata yang berkelanjutan, serta bagaimana seorang wisatawan dapat melakukan kegiatan wisata yang bertanggung jawab,” tutur Hatta Alwi.

 

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif.

Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Sulawesi dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0. ■

]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *