Eksklusif Dengan Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Yakin Masuk Top 10 Bank Syariah Dunia 

Bank Syariah Indonesia (BSI) punya target masuk Top 10 bank syariah dunia, dalam dua-tiga tahun mendatang. Keyakinan ini besar kemungkinan terwujud, karena di usianya yang belum dua tahun, BSI sudah berhasil mencatatkan sejumlah prestasi. 

Semester pertama tahun ini, BSI menghasilkan laba bersih Rp 2,13 triliun. Tumbuh 41 persen dibanding tahun lalu. Hal itu terungkap dalam wawancara secara eksklusif Rakyat Merdeka dengan Dirut BSI Hery Gunardi melalui platform Zoom, Kamis (22/9). 

Hery memaparkan, saat ini di Indonesia ada 107 bank konvensional. Dan dari kepemilikan aset, BSI berada di ranking ke 7, yaitu sebesar Rp 270 trilun. Sedangkan jumlah nasabahnya berada di urutan 5 dan 6 nasional, dengan total mencapai 20 juta nasabah. 

Dengan posisi seperti itu, Hery yakin, tak lama lagi, BSI akan masuk jadi Top 5 atau lima besar perbankan nasional. 

“Tiga tahun berikutnya, atau tahun 2025, target kami masuk 10 besar bank syariah terbesar di dunia. Dengan kepemilikan aset Rp 500 triliun dan jumlah nasabah 40 juta,” paparnya.

 Dalam wawancara virtual tersebut, dari Rakyat Merdeka hadir Direktur Utama/CEO RM Group Kiki Iswara Darmayana, Direktur Pemberitaan Ratna Susilowati, dan Kepala Analis/ Dewan Kebijakan Redaksi Supratman, Wakil Pemimpin Redaksi Kartika Sari, serta sejumlah redaktur eksekutif. Sedangkan Dirut BSI didampingi Sekretaris Perusahaan Gunawan Arief Hartoyo dan Head Of Corporate Communications Eko Nopiansyah.

Dalam pemaparannya, Hery mengatakan, BSI akan terus berkembang, tumbuh memberkan kontribusi positif untuk negara dan masyarakat. Hingga ke tingkat global.

Bagaimana mewujudkan target menjadi Top 10 bank syariah dunia? Dan dimana posisi BSI di jajaran bank syariah dunia? Menurut Hery, di level global, BSI berada di urutan ke 14. Seiring waktu, dia yakin akan ada kenaikan jumlah nasabah dan pertambahan aset, sehingga BSI bisa masuk ke posisi lebih tinggi. 

“Di 2025, minimal bisa masuk ke posisi 9 atau 8. Syukur-syukur bisa masuk posisi ke-7,” katanya, yakin.

Saat ini nilai kapital pasar (market capitalization) BSI mencapai 3,69 miliar dolar AS atau setara Rp 54,4 triliun. Di ranking 10, kapital pasarnya sekitar 5 miliar dolar AS. Di posisi pertama, saat ini ada Al Rajhi Bank dari Arab Saudi, kemudian Kuwait Finance di nomor dua. “Posisi 10 itu, sekitar 5 miliar dolar AS. Kami yakin bisa menyalip,” ujarnya.

Hery bilang, strategi untuk meningkatkan kapital pasar itu adalah dengan tumbuh organik dan anorganik. Pertumbuhan aset yang ada di BSI dengan double digit memberi peluang itu. Dan dari non organik, BSI terus melakukan akuisisi portofolio bank lain.

Hery menyadari, kondisi ekonomi akibat pandemi pada 2020 dan 2021 tidak mudah, termasuk untuk perbankan. Begitu juga BSI yang mulai merger pada Februari 2021. Merger saat pandemi, tantangannya besar. Diawali dengan membangun organisasi yang solid. Saat merger, semua harus membawa pengalaman terbaiknya. 

“Yang bagus kami bawa dan terapkan. Yang tidak bagus tidak diangkut,” katanya. 

BSI merupakan gabungan dari tiga bank syariah milik BUMN, yakni BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah.

 

Tutup Anak Usaha

Saat mulai membangun, BSI memastikan pertumbuhan kredit yang sehat. Caranya, selektif memilih nasabah, meningkatkan produktivitas cabang. Sekaligus melakukan efisiensi dengan menutup anak usaha yang area kerjanya sama atau mirip. 

“BSI memiliki 1.300 anak usaha. Yang usahanya mirip-mirip, atau ‘tokonya’ depan-depanan ditutup,” lapar Hery.

Di saat yang bersamaan, diadakan training agar produktivitas meningkat. Selain itu, BSI juga mendorong pertumbuhan digital banking. Caranya, memperbaiki fitur mobile banking, dan menyediakan layanan membuka rekening lewat online. Saat ini, user pendaftar sudah mencapai 4 juta nasabah. Dan yang aktif mencapai separuhnya. “Ini menghasilkan incomeyang cukup tinggi,” ungkapnya.

Mengenai kondisi global yang saat ini dilanda multiple hits of crisis, bagaimana persiapan BSI? Hery yakin, bisnis perbankan syariah akan mampu bertahan di kondisi yang sulit. Hal ini sudah terbukti saat pandemi. Model bisnis bagi hasil atau pembiayaan syariah, dinilai kuat dan mampu memberikan benefit. BSI bisa men-track nasabah dan melahirkan banyak terobosan di saat sulit. 

BSI akan terus tumbuh dan menjadi penyangga ekonomi nasional. Menurut dia, Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Tahun 2021 penduduk Muslim di Indonesia mencapai 220 juta orang, dan industri halal nilainya mencapai Rp 3.500 triliun. Ini adalah potensi ekosistem Islam yang luar biasa besar. 

Belum lagi ada pengelolaan pendanaan pesantren, masjid, zakat, infaq, sedekah, wakaf dan sebagainya. “Ini potensi market luar biasa yang dimiliki perbankan syariah. Tinggal bagaimana caranya memanfaatkan ini,” jelas mantan Wakil Direktur Utama Bank Mandiri itu.

Terakhir, Hery menceritakan upaya BSI terus mendorong industri keuangan berkelanjutan sesuai dengan moto 3P, yaitu people, profit, dan planet. BSI tidak hanya memikirkan bisnis. Tapi juga planet, yaitu alam yang implementasinya menyelamatkan bumi.

Dia mencontohkan, upaya konkret BSI dalam menyelamatkan bumi: membangun gedung dengan prinsip green energy. Kantor BSI di Aceh, misalnya, 30 persen energinya berasal dari panel surya. Juga menerapkan teknologi mendaur ulang air, sehingga bisa dimanfaatkan lagi.

“Ini sesuai dengan pesan Presiden Jokowi saat mendirikan BSI pada 1 Februari 2021. BSI harus menjadi bank yang universal, memaksimalkan penggunaan teknologi, menarik minat generasi milenial, dan maju menjangkau UMKM sampai korporasi,” pungkas Hery.

]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *