Bukan Hanya “Konsumsi Orang Dewasa”

“Motifnya hanya untuk konsumsi orang dewasa,” kata Menko Polhukam Mahfud MD.

Walau semua sudah tahu arti kalimat tersebut, tetap saja melahirkan rasa penasaran. Dewasa seperti apa? Bagaimana “alur kisah” sebenarnya? Siapa yang terlibat? Walau sejuta jawaban sudah tersedia di media sosial dan WA group, masyarakat tetap membutuhkan yang resmi.

Kasus ini akhirnya seperti novel berseri atau infotainment. “Budaya” itulah yang berkembang dalam masyarakat yang hidup di “wilayah abu-abu”, yang tumbuh dalam budaya “bergelap-gelap dalam terang”, masyarakat yang merindukan transparansi dan keadilan. Masyarakat yang selalu bertanya dalam ragu: “benar enggak ya?”

Bahwa Ferdi Sambo sudah tersangka, itu menjadi salah satu puncak. Ada puncak lain yang dinanti masyarakat: motif.

Polri bersama Kapolri sudah sangat baik mencapai salah puncak itu. Masyarakat masih menunggu satu puncak lainnya. Ini akan menjadi pertaruhan lain bagi Polri.

Polri tentu akan mempertimbangkan dengan matang bagaimana cara mengungkap kasus yang “hanya bisa dikonsumsi orang dewasa” itu.

Sejauh ini, Mahfud MD layak diapresiasi. Sedari awal, Menko Polhukan yang juga ketua Kompolnas ini, selalu mengawal. Mahfud membuka info sedikit demi sedikit. Nyicil. Kecil tapi menusuk.

“Info yang dibocorkan” itu menjadi semacam pagar atau rel supaya kasus ini tetap terarah dan fokus. Tidak keluar jalur.

Presiden Jokowi tentu saja menjadi lokomotifnya. Perhatiannya luar biasa. Pernyataan supaya kasus ini dibuka seterang-terangnya, disampaikan Presiden sampai empat kali. Ini spesial. Sesuai harapan masyarakat.

 

Masyarakat juga mengawal. Tidak ada yang terbelah. Tak ada cebong kampret atau kadrun. Tidak ada polarisasi. Semua bersatu menginginkan tegaknya keadilan dan terungkapnya kebenaran.

Inilah cermin Indonesia sesungguhnya: bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Dengan semangat itu, serta komitmen, kerjasama serta totalitas, segala rintangan, hambatan serta gangguan, bisa dihadapi. Semua target bisa dicapai.

Pola ini mestinya menjadi pemandu menghadapi persoalan atau kasus-kaksus lain. Apa pun. Karena, masih banyak kasus serta “puncak” masalah bangsa ini yang harus dipecahkan.

Yang menjadi perhatian publik, misalnya kasus Harun Masiku yang sudah lebih 900 hari belum tertangkap. Korupsi yang masih marak, serta kasus-kasusnya yang bahkan bernilai triliunan.

Yang terbaru, kemarin ada kabar bahwa harga mie instan akan naik tiga kali lipat. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengingatkan, kemungkinan ini terjadi akibat terganggunya impor gandum dari Rusia dan Ukraina. Gandum adalah bahan baku mie instan.

Kalau kasus “polisi tembak polisi” menjadi konsumsi orang dewasa, maka mie instan menjadi konsumsi seluruh rakyat Indonesia. Bukan hanya orang dewasa. Kalau harganya naik tiga kali lipat, makanan ini bukan lagi menjadi makanan rakyat.

Inilah tantangan lain yang harus dipecahkan dan dituntaskan. ■

]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *